Pemilu 2009 : Dari nyoblos jadi nyentang ???

Ngga kerasa, mulai pemilu tahun depan, aku akan ikut ambil bagian dalam acara yang katanya “pesta demokrasi” itu. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, siapapun yang akan menang, bukanlah rakyat yang jadi pemenangnya.
Rakyat hanya menjadi penonton dalam “pertandingan politik”. Ya, kapan rakyat benar-benar menjadi pemeran utama dari pemilu??
Berkali-kali pemilu diadakan, tetap saja rakyat menderita. Tak ada perubahan yang berarti dalam kehidupan mereka. Yang berubah hanyalah dalam bidang politik. Kebebasan benar-benar diperbolehkan. Artis-artis pada maju jadi calon legislatif atau walikota. Padahal mungkin mereka hanya dijadikan alat penarik suara. Lalu, bagaimana dengan bidang Ekonomi, Hukum, dan yang lainnya??Belum,atau mungkin tak akan pernah berubah jika tak ada niat yang lurus dari pemimpin bangsa ini.

Pertama kali mendengar bahwa pemilu 2009 akan berubah dari yang asalnya nyoblos jadi nyentang, yang pertama terpikir adalah penghamburan uang negara dan terbukanya peluang korupsi. Bayangkan saja, yg asalnya hanya membutuhkan paku, sekarang berubah menjadi pulpen. Berapa peningkatan biayanya???WAW…banyak sekali!!berkali-kali lipat mungkin. Padahal dengan uang yang segitu, mungkin cukup untuk membuat beberapa sekolah bagi rakyat miskin atau apalah itu, bukan sekedar mengubah hal yang tidak mendasar seperti itu.

Mungkin yang harus dirubah bukan tata cara pencoblosan, tapi syarat-syarat seseorang menjadi calon pemimpin. Ya, sekarang tuh gampang. Asal punya uang untuk menyumbang ke partai politik, insyallah bakal langsung menjadi anggota legislatif atau apapun itu. Dengan cara seperti itu, kita lihat moral pemimpin kita. contoh yang ada di masyarakat :

A. Al-Amin Nasution : Disuap di hotel, ketauan sedang bersama seorang cewek di kamar hotel walaupun dia bilang cuman sekretasrisnya padahal….kamu tau lah
B. Max Moein    : skandal pelecehan seks…Astagfirullah!!
C. Yahya Zaini    : sama seperti di Max Moein

Mau dibawa ke mana bangsa ini???
Kalau pemimpinnya saja seperti ini. Dibawa ke arah kebaikan atau malah kehancuran??

wallahu alam

4 Comments

  1. Hmm… Antum punya blog? Nape g pernah bilang…?
    Kunjungi blog ane ah, anggakusumadinata.wordpress.com

  2. Asw
    ditunggu postingan brunya n_n
    wasw

  3. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    OK2.. tapi saya kurang setuju kalo pemilu rakyat ga menang.. kenapa?? karena pada dasarnya mereka ga peduli sama pemilu..

    Pemilu merupakan cara yang efektif bagi kita sebagai pemuda Islam untuk mewujudkan kekhalifahan Islami di Indonesia.

    Dan taulah mana yang harus dipilih?? pilihlah yang bersih, peduli, dan profesional..

    Partai Keadilan Sejahtera..

    hehe2…
    Wass..

  4. Politik menurut Pak Oman:
    Segala bentuk upaya memperoleh kekuasaan

    Politik dalam perspektif Islam:
    Segala bentuk upaya memanfaatkan kekuasaan untuk meminimalisir keburukan sekecil mungkin dan memaksimalkan kebenaran sebesar mungkin.

    Tulisan ente cukup menjadi gambaran sebagian besar orang yang kecewa terhadap politik islam yang diagung-agungkan partai-partai Islam namun ternyata menjadi bumerang karena blunder yang dilakukan kader-kader partai mereka.

    Ente mungkin kecewa dengan Al-Amin yang notabene berasal dari Partai Islam. Juga dengan presiden Gusdur yang mulanya dianggap bisa menjadikan islam sebagai pencerahan bagi tantangan bangsa ternyata malah ancur.

    Tapi kalau kita mau mengkaji secara analitis dan sistematis, antum akan melihat kebermanfaatan yang diberikan da’i-da’i yang ada di kursi dewan maupun pemerintahan. Antum tahu swasembada pertanian kita tidak lepas dari da’i yang kini menjadi Menteri Pertanian? Atau Menteri Pemuda dan Olahraga dan Menteri Sekretaris Negara yang jebolan Salman ITB meskipun mereka berbeda Partai?

    Masuk partai politik adalah ijtihad, sama halnya dengan yang dilakukan jama’ah lain yang memilih berlepas diri dari NKRI atau berdakwah hanya melalui dakwah kultural saja.

    Yang perlu kita lakukan, kalau kita tak setuju ya toleran lah, kalau setuju kita doakan mereka, semoga mereka selalu berada dalam keistiqomahan.

    “Mari kita bahu-membahu untuk yang kita sepakati dan bertasamuh (toleran) untuk yang tidak kita sepakati”
    -Yusuf Al-Qordhowi-

    Nice blog


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment